MAAF ATAU BENCI
Molin menekan luapan marahnya. Meskipun ia geram sekali pagi itu. Rintik air hujan turun semakin deras. Anak-anak yang di sekolah itu sedang melaksanakan piket berhamburan menuju kelas mereka masing – masing, agar pakaian mereka tidak basah. Tapi, Molin, Sasa, Ica, Rere, Nini dan Ridlan pagi itu masih melaksanakan piket di WC, baik WC putra maupun WC Putri. Piket WC sudah menjadi tanggung jawab mereka di setiap harinya. Sampai jadwal piket itu diganti oleh guru yang bersangkutan. Walaupun hujan turun sangat deras, mereka tetap ingin menyelesaikan piket tersebut.
Pada saat mereka melaksanakan piket, Molin dan Ica sangat kesal sekali karena anak – anak yang ingin cepat masuk ke kelas mereka masing – masing lewat terus dari teras WC tersebut. Molin hanya membiarkan mereka lewat walaupun di hatinya smpat timbul perasaan yang sangat marah. Tapi apalah daya, dia takut untuk menegur teman – teman untuk tidak boleh melewati tempat itu. Tak ada alasan lain, kebanyakan yang lewat daerah itu adalah kakak-kakak kelas.
Pada hari rabu itu, seperti biasa Molin dkk mengerjakan tugas piket mereka. Tetapi, ada sesuatu yang membuat hati Molin membara. Ada kakak kelas laki – laki yang melewati teras WC yang baru saja dibersihkan oleh Molin. Dia memasang wajah tak berdosa sambil menginjakkan sepasang sepatunya yang penuh dengan lumpur. Fiandra, begitu nama yang dipanggil oleh anak – anak kelas XII kepadanya. Tiba – tiba sewaktu Fiandra berjalan dengan santai terdengar suara…
“Maaf Kak Fiandra, lewatnya jangan dari sini, kalau mau lewat dari sini tolong lepas sepatunya karena nanti kotor lagi!” Ujar Molin dengan hati yang dag…dig…dug... Tutur kata yang lembut tetapi hatinya ingin sekali berteriak. Meskipun, dia ingat bahwa dengan kemarahan tidak akan menyelesaikan suatu permasalahan. Tapi, Fiandra sudah terlanjur menginjakkan kakinya di teras tersebut.
“Ah loe ini…Jangan suka ngatur deh, nyadar dong loe itu junior gue kan?” Kata Fiandra dengan ketusnya.
“Hei Kak, kami ini sudah capek piket…satu lagi, kalo ngomong yang sopan dong!” Ujar Ica dengan emosi yang tak terbendung.
“Eh anak kecil, belum tahu dengan Fiandra?” Tanya Fiandra dengan sombongnya.
“Ya…saya tahu dengan anda. Senior yang sangat sombong dan gak ada hati!” jawab Ica dengan menyerngitkan dahinya.
“Udah – udah…kalian jangan ribut disini, malu di lihat sama yang lain lagipula nanti kerjaan kita gak selesai Ca!” Ujar Sasa kepada Ica.
“Tapi Sas…..” Jawab Ica.
“Iya Ca, biarin aja Kak Fiandra lewat, ntar kita bersihin aja lagi!” Timbal Nini.
Pernyataaan Nini mengakhiri perdebatan pagi itu. Fiandra pun berlalu sambil tersenyum sinis melihat nasib Molin dkk. Molin dkk pun dengan segera menyelesaikan tugas mereka. Sepertinya lima belas menit lagi guru piket akan membunyikan bel tanda masuk jam pelajaran pertama. Ridlan, satu – satunya cowok yang piket WC melihat arlojinya menunjukkan jam 06.50 WIB. Ridlan pun memberi tahu kepada teman – temannya untuk segera menuju ke kelas. Piket pun telah selesai.
Rere yang pendiam, tidak banyak tingkah hanya diam ketika terjadinya pertengkaran tersebut. Melihat tanggapan Rere yang tidak berkutik terhadap peristiwa pagi itu, Ica un menanyakannya kepada Rere. Rere menjawabnya
“Saya takut Ca, jangankan mau bersuara melihat wajahnya saja sudah takut duluan!” Ujar Rere.
“Terus kamu Ridlan, kenapa nggak belain Molin tadi?” Tanya Ica kepada Ridlan.
“Ica, air jangan di campur dengan minyak, tapi hadapi masalah itu seperti air dengan api!” Jawab Ridlan puitis.
“Maksudnya apa sih?” Tanya Nini yang agak lemot.
“Maksud Ridlan itu, kekerasaan jangan dibalas dengan kekerasan juga, tapi hadapilah kekerasan dengan kesabaran” Jelas Sasa.
Ica hanya terdiam mendengar perkataan Ridlan. Seharusnya dia tidak perlu mengeluerkan emosi yang berlebihan terhadap Fiandra. Molin pun kini sudah memaafkan kesalahan yang dibuat oleh Fiandra. Lalu, mereka memasuki kelas. Tak lama kemudian, guru matematika memasuki ruangan kelas tersebut.
Hari sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB. Istirahat pertama pun tiba. Mereka masih membahas tentang kejadian tadi.
“Sudahlah Ca, maafin aja perlakuan Kak Fiandra tadi!” Ujar Ridlan
“Iya deh, kalau di pikir – pikir ngapain juga aku ngeladeninni orang kayak gitu yah!”
“Aku sudah maafin dia walaupun dia belum minta maaf!” Kata Ica dengan tulus.
Akhirnya, hati mereka semua tenang karena sudah memaafkan kesalahan Fiandra. Walaupun kenyataannya Fiandra tidak minta maaaf kepada mereka.
Karya : Triwulandari
wulan
Kitab Al-Qur'an adalah benar-benar sabda Allah SWT yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW dengan mutu keajaiban terletak pada gaya bahasanya yang sempurna dan agung. Suatu mukjizat yang dapat disaksikan oleh umat manusia untuk membuktikan kebenaran Nabi Muhammad SAW.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar